Langsung ke konten utama

Listrik Akan Mati Selamanya. Sudah Siapkah Kita?

Trending topic status BBM malam ini adalah #matilampu. Hehe lucu ya. Orang Surabaya kena mati lampu sebentar saja sudah banyak yang bingung seolah-olah mati lampu adalah musibah yang sama buruknya dengan banjir. Udara menjadi lebih panas karena AC tidak dialiri listrik, nyamuk-nyamuk mendengung di telinga kita berebut menggigit, mati gaya karena gadget seharusnya tidak boleh mati barang sebentar. Lalu apa yang kita lakukan? Paling banter ya menelpon PLN karena hanya mereka yang bisa dikambinghitamkan. Walaupun kita sudah tahu penyebab wafatnya si listrik, tetap saja kita perlu mendapat kepastian dengan melontarkan pertanyaan yang itu-itu saja: "Sampai kapan?". Sedangkan call center hanya bisa memberikan jawaban: "Mohon ditunggu saja, sedang diusahakan.". Dari situlah akan timbul domino effect atas ketidakpuasan kita terhadap jawaban si call center. Kita mulai marah-marah dengan apapun yang ada disekitar kita, menyalahkan siapapun dan apapun untuk sekedar meluapkan kekesalan. Kasihan sekali jika yang ada dihadapan kita adalah orang-orang yang kita sayangi. Mumpung gadget belum low battery, masih untung bisa update status, menulis kalimat berlebihan supaya menjadi bencana nasional. Ewwh.

Berdasarkan data yang dihimpun scientificindonesia.wordpress.com Indonesia memiliki 123 unit pembangkit listrik yang tersebar di seluruh provinsi baik berupa PLTA, PLTU, PLTG, PLTD. Ditambah lagi dengan pembangkit listrik yang dibangun pihak swasta sejumlah 21 unit. Tahun 2014, Pulau Jawa kembali mencetak rekor tertinggi untuk pemakaian sumber daya listrik. Artinya kita, masyarakat Surabaya adalah pengonsumsi sumber daya listrik yang cukup besar. Memang sih pemerintah akan terus mengupayakan pembangunan pembangkit listrik baru untuk menopang kebutuhan akan listrik. Bukankah hal tersebut akan membuat kita semakin rakus dalam penggunaan sumber daya?

Oke, kita bisa saja membayar berapapun jumlah tagihan listrik yang sudah kita pakai asalkan kebutuhan kita akan listrik terpenuhi. "Wajar dong namanya saja hidup di kota dengan peralatan modern yang sebagian besar membutuhkan asupan listrik.". Hey, apakah kita tidak pernah berpikir jika sumber daya adalah sesuatu yang sifatnya terbatas? Sebenarnya kita sudah tahu kalau sumber saya lambat laun akan habis tetapi kita tidak pernah memikirkannya atau terlalu mengerikan untuk dijadikan bahan pembicaraan santai di kedai kopi. Biarlah itu menjadi urusan nanti jika memang sudah benar-benar habis. Sejak lahir, kita sudah mengenal listrik dan orang tua kita tidak perlu menjelaskan apa itu listrik. Kita tahu listrik menjadi bagian terpenting dan akan terasa menyesakkan jika musibah mati lampu melanda. Barangkali jika kita lahir menjadi Suku Sasak di Kabupaten Sumbawa Barat, yang sampai saat ini belum pernah mendapatkan pasokan listrik, kita tidak akan menjadi manusia perongrong sumber daya seperti sekarang.

Ngga ada listrik, ngga mati gaya juga kok. Jika sekarang masih lampu mati, kita bisa ke luar sebentar. Ada remang-remang cahaya bulan dan temaram bintang yang bisa kita saksikan sambil sedikit mencari angin. Biarkan saja gadget mati, toh kita bisa mengobrol dengan tetangga yang selama ini jarang kita sapa, membeli camilan untuk dinikmati ramai-ramai. Tidak perlu buru-buru menghubungi call center PLN dan menanyakan pertanyaan yang itu-itu saja. Cukup bayangkan saja jika mereka akan memberitahu kita bahwa listrik akan mati selamanya. Yap, selamanya.

Alfa is listening to: Worth It - Fifth Harmony

Komentar